Hukum Hadiah Dalam Islam

Siapa saja pasti akan senang ketika menerima hadiah. Biasanya hadiah diberikan datangnya dari orang tercinta. Tentunya akan meninggalkan kesan tersendiri bagi si penerima. Hadiah biasa diberikan saat momen spesial, misalnya saat ulang tahun, menikah, atau hari jadi pernikahan. Selain itu juga diberikan sebagai imbalan atas tercapainya sesuatu, misal ketika memperoleh peringkat pertama di kelas sahabat akan mendapatkan hadiah dari ayah atau ibu. Bagaimana hukum hadiah menurut Islam?

Sumber: http://www.ilmuini.com/2012/06/hadiah-kado.html
Sumber: http://www.ilmuini.com/2012/06/hadiah-kado.html

“Penuhilah undangan, jangan menolak hadiah dan janganlah menganiaya kaum muslimin.”

(HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Al Bukhari)

Menurut istilah syar’i, hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang tertentu dengan tujuan terwujudnya hubungan baik dan mendapatkan pahala dari Allah tanpa adanya permintaan dan syarat. Hukumnya diperbolehkan apabila tidak ada larangan syar’i. Disunnahkan apabila dalam rangka menyambung silaturrahim, kasih sayang dan rasa cinta. Disyariatkan apabila bertujuan untuk membalas budi dan kebaikan orang lain. Dan terkadang bisa menjadi haram atau perantara menuju perkara yang haram, dan ia merupakan hadiah yang berbentuk suatu yang haram, atau termasuk suap menyuap. Hal-hal seperti ini hendaknya selalu kita perhatikan. Jangan sampai justru menjerumuskan dalam dosa. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencinta”.

(HR Bukhari)

Memberikan hadiah sangat dianjurkan. Selama bertujuan baik untuk menjaga persaudaraan. Sekecil apapun hadiah bisa menjadi salah satu hal yang sangat bermanfaat, bahkan selalu diingat oleh orang-orang tersayang.

“Wahai, wanita muslimah. Janganlah kalian menganggap remeh pemberian seorang tetangga kepada tetangganya, sekalipun ujung kaki kambing”.

(HR Bukhari)

Hadiah banyak sekali macamnya, biasanya disesuaikan dengan selera si penerima. Sebagai muslim tentunya kita harus pandai-pandai memilih. Untuk hadiah berupa benda, alangkah baiknya kita memilih hadiah dengan tidak mengesampingkan nilai manfaatnya, misalnya untuk keperluan ibadah. Seperti Al-Quran, mukena, jilbab atau khimar, tasbih, dan sajadah. Sehingga sampai kapanpun si penerima akan selalu mengingat pemberian kita karena dimanfaatkan dalam kesehariannya. Sedangkan jika hadiah berupa makanan, pastikan makanan tersebut halal, ya, sahabat.

Halaman ini telah diakses dengan kata kunci: