Mahar Dalam Pernikahan

Adanya mahar menjadi salah satu syarat sah suatu pernikahan selain adanya wali dan dua orang saksi. Mahar adalah sejumlah harta yg diberikan oleh calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita ketika melangsungkan pernikahan. Nominal dan/atau jenisnya diucapkan pada saat ijab kabul dan biasanya diserahkan usai prosesi ijab kabul selesai.

mahar

Saat ini yang sedang marak di kalangan masyarakat muslim negara kita adalah berupa benda seperti seperangkat alat sholat, perhisan, atau sejumlah uang. Meskipun sejatinya mahar tidak selalu berupa barang.

“Seandainya seseorang tidak memiliki sesuatu untuk membayar mahar, maka ia boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya.”

(HR. Bukhari & Muslim)

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia mahar bukanlah hal yang biasa.Biasanya akan dikemas sedemikian rupa agar cantik dan mengesankan. Misalnya jika mahar berupa seperangkat alat sholat maka akan dibentuk, dikreasikan, dan dihias sedemikian rupa. Jika berupa sejumlah uang maka nominalnya akan merujuk ke tanggal istimewa, misalnya tanggal dilangsungkannya pernikahan. Adapun pengemasannya juga dibuat cantik seperti berupa miniatur pengantin dan masjid yang terbingkai sebagai hiasan dinding sampai dibuat empat dimensi. Ada pula yang berupa koin yang ditata dalam bingkai besar berbentuk sketsa foto kedua pengantin, seperti pada pernikahan aktris muslimah Oki Setiana Dewi.

Sejatinya semua kembali kepada calon suami sebagai pemberi dan kesediaan calon istri sebagai penerima mahar. Karena besarannya adalah menurut kesepakatan calon suami dan istri. Hendaknya mempelai wanita juga tidak meminta mahar yang cenderung memberatkan.

”Sebaik-baik perempuan adalah yang paling murah maharnya.”

(HR. Ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi, Ahmad)

Pada dasarnya mahar bisa dipenuhi oleh calon suami namun tetap dapat mengangkat harkat dan martabat calon istri. Mahar adalah hak istri. Apabila maharnya dalam bentuk harta, maka suami tidak boleh (dilarang) menggunakannya tanpa persetujuan istrinya. Apabila berupa alat sholat seperti sajadah atau Al Quran, suami boleh saja menggunakannya untuk sholat atau membaca Quran. Adapun bila suami istri bercerai dikarenakan tuntutan istri, maka istri mesti mengembalikan mahar yang pernah ia terima.

by Amalia Miza