fbpx

Jadilah kaya dengan merasa cukup, tetaplah kaya dengan berbagi. Sedekah merupakan kalimat sederhana yang sangat mudah diucapkan dan dibayangkan. Namun pada kenyataannya sangat sulit untuk dikerjakan. Meski sebenarnya sedekah sudah bukan hal baru dalam dunia ini, namun tetap saja para pelaku kehidupan banyak yang masih belum menyadari efek samping dari sedekah yang sangat luar biasa.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam Beliau bersabda:“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan, “siramilah kebun si Fulan!”, maka awan itu menepi (menuju ketempat yang ditunjukkan) lalu mengguyurkan airnya ditanah bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang berada dikebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya. Kemudian dia bertanya, “wahai hamba Allah, siapakah nama anda?”. Dia menjawab, “Fulan”. Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, “mengapa anda menanyakan namaku?” Dia menjawab, “saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan ‘siramilah kebun si Fulan !’ yaitu nama anda, maka apakah yang anda kerjakan dalam kebun ini?”. Dia menjawab, “karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan, sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan ke kebun (ditanam kembali)”. Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd wa Raqa’iq, bab Ash-Shadaqah alal Masakin, no. 45 (2984).

Telah datang janji kebenaran dari Allah SWT bahwa Dia akan melapangkan yang sempit, memudahkan yang sulit, menghadirkan yang tak ada, menambahkan yang kurang dan memperbanyak yang sedikit dengan sedekah.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas karunianya lagi maha mengetahui. (Q.S Al-Baqarah:261)

Dalam ayat tersebut, Allah dengan jelas menggambarkan keberuntungan orang yang suka membelanjakan hartanya dijalan Allah, yaitu untuk mencapai keridhaan-Nya maka Allah lipat gandakan pembalasan atas amalnya tersebut. Yaitu seperti orang yang menyemai sebutir benih ditanah yang subur. Benih yang sebutir itu menumbuhkan sebatang pohon dan pohon itu bercabang tujuh, setiap cabang menghasilkan setangkai buah dan setiap tangkai berisi seratus biji sehingga benih yang sebutir itu memberikan hasil 700 butir, ini berarti 700 kali lipat. Bayangkan  betapa banyak hasilnya apabila benih yang ditanamnya itu lebih dari sebutir.

Dalam rumus perjalanan kehidupan ada roda perjalanan nasib yang pasti dilalui oleh setiap makhluk-Nya. Berada pada posisi di atas ataupun di bawah sering menjadi dilema bagi setiap hamba. Keragu-raguan mereka dalam menjalani setiap dinamika kehidupannya yang juga sering tanpa di duga. bagi orang yang menginginkan nasibnya berketerusan baik, hendaknya ia menjaga perputaran roda tersebut agar terus berputar dengan porosnya. Salah satu sumber energi yang tiada habisnya adalah sedekah. Dalam hal ini sedekah merupakan energi terdahsyat yang mampu membuat perputaran roda nasib tersebut berputar dengan kecepatan yang tak terjangkau oleh alat pengukur apapun karena ia bersentuhan langsung dengan Tuhan.

Meski demikian, kekayaan tidak membawa arti apapun tanpa keberkahan. Dengan adanya keberkahan, harta yang sedikit akan terasa banyak dan cukup. Sebaliknya tanpa keberkahan akan terasa sempit meski banyak. Kekayaan bukanlah sesuatu yang harus diidam-idamkan oleh seorang muslim karena kekayaan bisa membawa kerusakan jika tidak mengikuti jalan yang benar. Banyak manusia yang lalai bersyukur padahal mereka telah mendapatkan banyak rezki dan anugerah dari Allah SWT. Maka ketahuilah, salah satu cara bersyukur yang tepat dan nyata adalah dengan sedekah. Jika dipikir realistis, semakin gemar kita mengeluarkan harta (bersedekah), hidup kita diprediksi akan cepat jatuh miskin. Namun syari’at Islam membantah hal tersebut dan menegaskan bahwa harta kita akan bertambah dan menjadi berkah. Bagaimana tidak, dengan sedekah selain dilipat gandakan pahala yang kita dapatkan, kita juga mendapatkan do’a-do’a kebaikan atas diri dan kehidupan kita dari orang-orang yang telah kita sedekahi.

Renungkan jika dalam menjalani kehidupan ini hanya kita sendiri yang memohon dan bernegosiasi dengan Tuhan mengharap kebaikan, mungkin saja Tuhan mengurungkan hak istimewanya untuk mengabulkan do’a kita dengan alasan tertentu atau tanpa alasan apapun bisa saja karena Tuhan adalah jabatan Esa dan tidak ada yang mampu menyamainya. Lain halnya jika yang memohon dan berdo’a melakukan negosiasi atas diri kita tersebut dilakukan oleh banyak orang dengan segenap ketulusan, bagaimana mungkin Allah tetap akan menggagalkan terkabulnya do’a?. Berbeda jika kita telah melakukan kebaikan, namun masih tetap gagal juga maka telitilah kembali dalam niat awal kita, mungkin saja masih terselip goresan kesombongan dan riya’ diantara niat tulus dan amal baik kita tersebut.

Sedekah tidak hanya menjadi jalan yang dapat memicu pelipat gandaan pahala kita dengan hasil yang sangat mengagumkan. Sedekah juga merupakan salah satu tolak ukur ketaqwaan seseorang. Bagaimana tidak, salah satu ciri orang bertaqwa adalah bersedekah di waktu lapang maupun sempit. Banyak diantara kita yang mudah bersedekah ketika dalam keadaan memiliki kelebihan harta. Sedangkan bersedekah ketika dalam kekurangan, ketika diri sendiri dalam keadaan tidak cukup, apakah kita masih akan mau bersedekah? Nah! Disinilah letaknya ciri khusus seorang muslim bertaqwa.